Diabetesmellituscenter











{Desember 24, 2009}   Terapi Diabbetes Mellitus

a) Antidiabetik oral

Berdasarkan cara kerjanya, antidiabetik oral dibagi menjadi 3 golongan :

1.  Pemicu sekresi insulin yaitu sulfonylurea, glinid (meglitinid)

2. Penambah sensitivitas terhadap insulin yaitu biguanid, thiazolidindion atau glitazon

3.  Penghambat absorbsi glukosa yaitu penghambat alfa glukosidase

b) Insulin (Asdie, 2000).

  1. a. Agen antidiabetik

1)      Sulfonilurea

Sulfonilurea bekerja dengan merangsang pelepasan insulin, mengurangi kadar glukagon serum, dan meningkatkan pengikatan insulin pada jaringan-jaringan target (Stringer, 2006).

Sulfonilurea diindikasikan pada pasien (terutama pasien yang mendekati berat badan idealnya) yang dietnya gagal untuk mengendalikan hiperglikemia, tetapi pada sekitar 30% kontrol tidak dapat dicapai dengan obat ini (Neal, 2005). Dalam pemilihan sulfonilurea yang menentukan bukanlah umur pasien waktu terapi dimulai, tetapi usia pasien waktu penyakit DM mulai timbul. Pada umumnya hasil yang baik diperoleh pada pasien yang diabetesnya mulai timbul pada usia di atas 40 tahun. Sebelum menentukan keharusan penggunaan sulfonilurea, selalu harus dipertimbangkan kemungkinan mengatasi hiperglikemia dengan hanya mengatur diet serta mengurangi berat badan pasien (Anonim, 2007).

2)      Biguanid

Biguanid berbeda dari sulfonilurea karena tidak merangsang sekresi insulin. Risiko hipoglikemia lebih kecil daripada obat-obat sulfonilurea. Metformin mungkin digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan sulfonilurea. Metformin bekerja terutama dengan jalan mengurangi popengeluaran glukosa hati, sebagian besar dengan menghambat glukoneogenesis. Efek yang sangat penting adalah kemampuannya untuk mengurangi hiperlipidemia (konsentrasi kolesterol LDL dan VLDL menurun dan kolesterol HDL meningkat). Pasien sering kehilangan berat badan. Metformin dipertimbangkan oleh beberapa ahli sebagai obat pilihan baru untuk penderita DM tipe 2. Metformin mudah diabsorpsi per-oral, tidak terikat dengan protein serum dan tidak di metabolisme. Ekskresi melalui urine. Efek samping saluran cerna tinggi. Sangat jarang menimbulkan asidosis laktat yang fatal. Penggunaan jangka panjang dapat mempengaruhi absorpsi vitamin B12. Kontraindikasi pemakaian obat ini pada insufisiensi ginjal dan hati (Maycek, 2001).

Pada umumnya metformin dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan jantung sehingga hanya digunakan intuk penderita yang tidak menderita penyakit ginjal atau jantung (Siswandono, 2000).

3)      Glinid (Meglitinid)

Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid, mekanisme kerjanya sama dengan sulfonilurea tetapi struktur kimianya sangat berbeda. Efek samping utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna (Suherman, 2007).

4)      Thiazolidindion/glizaton

Thiazolidindion merupakan suatu golongan obat antidiabetes oral yang baru-baru ini dikenalkan yang meningkatkan sensitivitas insulin terhadap jaringan sasaran. Dua anggota dari golongan tersebut tersedia secara komersial; rosiglitazone dan pioglitazone. Pioglitazone juga dapat berfungsi sebagai suplemen untuk terapi sulfonilurea atau terapi insulin pada populasi  diabetes tipe 2. FDA mencatat bahwa tersedia thiazolidindion alternatif yang tidak menyebabkan toksisitas hati dalam penelitian klinis; hal tersebut member kontribusi untuk diputuskannya penarikan persetujuan yang telah diberikan pada troglitazone (Katzung, 2002).

5)      Penghambat Alfa Glukosidase

Acarbose dan miglitol merupakan penghambat kompetitif α-glikosidase usus dan memodulasi pencernaan pasca prandial dan absorpsi zat tepung dan disakarida. Akibat klinis pada hambatan enzim adalah untuk meminimalkan pencernaan pada usus bagian atas dan menunda pencernaan (dan juga absorbsi) zat tepung dan disakarida yang masuk pada usus kecil bagian distal, sehingga menurunkan glikemik setelah makan sebanyak 45-60 mg/dl dan menciptakan suatu efek hemat insulin (Katzung, 2002). Akarbosa digunakan untuk penderita diabetes mellitus yang dietnya buruk dan dipakai dalam bentuk kombinasi. Obat ini kontraindikasi untuk orang yang mengalami gangguan abdomen dan gagal ginjal. Efek samping yang sering ditimbulkan adalah kram perut, diare, dan flatulence (Oki and Isley, 2002).

6)      Insulin

Insulin adalah suatu hormone yang diproduksi oleh sel beta pulau langerhans kelenjar pancreas. Efek kerja insulin adalah membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel. Kekurangan insulin menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk ke dalam sel. Akibatnya glukosa darah akan meningkat dan sebaliknya sel-sel tubuh kekurangan bahan sumber energy sehingga tidak dapat memproduksi energy sebagaimana mestinya. Disamping fungsinya membantu transport glukosa masuk ke dalam sel, insulin mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap metabolisme, baik metabolisme karbohidrat dan lipid, maupun metabolisme protein dan mineral. Insulin akan meningkatkan lipogenesis, menekan lipolisis, serta meningkatkan transport asam amino masuk ke dalam sel. Insulin juga mempunyai peran dalam modulasi transkripsi, sintesis DNA dan replikasi sel. Itu sebabnya gangguan fungsi insulin dapat menyebabkan pengaruh negative dan komplikasi yang sangat luas pada berbagai organ dan jaringan tubuh (Depkes, 2005).

Meskipun terapi insulin lebih baik dibanding sulfonilurea dan metformin dalam menurunkan kadar glukosa puasa, akan tetapi insulin tidak efektif dalam menurunkan HbA1C. Hal ini disebabkan karena sebagian agen oral mengurangi kadar glukosa puasa post-prandial dengan baik sebaliknya penyediaan basal insulin hanya mengurangi kadar glukosa basal (Turner, 2005).

Insulin dan analognya menurunkan level glukosa darah dengan menstimulasi uptake glukosa dan menghambat produksi glukosa hepatik. Insulin menghambat lipopisis di adiposit, menghambat proteolisis dan menaikkan sintesis protein. Insulin disekresi oleh sel beta pankreas, yang dibutuhkan untuk mengubah glukosa pada proses metabolisme. Tersusun atas 2 rantai yaitu asam dan basa, yamg dihubungkan oleh ikatan sulfida. Insulin manusia berbeda dengan insulin hewan terutama pada rantai basanya. Dibuat melalui proses biosintesis dengan strain E. Coli atau Yeast (Kristina, 2005).



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: